The Great Shifting: Perubahan Cepat dan Akselerasi Dakwah Bagi Pesantren

The Great Shifting: Perubahan Cepat dan Akselerasi Dakwah Bagi Pesantren

Oleh: Muhammad Qorib Hamdani

XI PK A

Berjuang melawan kantuk, hinga tersunduk-sunduk, demi seponggak ilmu yang akan membawa ke awan. Dia, siapa? Seorang berkopyah, dan bersarung yang berjalan layaknya seorang raja dengan memakai gamis (santri). Menari-nari dengan senangnya (sukses) dan berdoa semoga tak lupa pada tanah yang telah melahirkan dan mendidiknya (pesantren).

Era milenial selalu membawa perubahan cepat (great shifting) dari masa ke masa, dari kuno ke modern, berevolusi menciptakan sesuatu yang baru, menyulap benda yang besar menjadi kecil (chips). Membawa semua orang ke dalamnya sehingga mereka bingung, apa yang ingin dilakukannya? Tak habis pikir? Terserahlah, aku hanya mengikuti arus saja dalam derasnya air, entah kemana ia akan membawaku, yang penting aku bahagia.

Meraka seakan tak peduli dengan zaman, yang penting mereka hidup dengan kesenangan dunia yang bersifat sementara (hedonisme), layaknya psikopat, hanya saja mereka bukan senang di atas penderitaan orang lain, melainkan bersenang dengan teknologi yang memudahkannya.

Era tersebut banyak membawa sisi negatif bagi manusia, seperti hilangnya budaya dan tergantikan oleh budaya barat, bukan hanya budaya, pakaian tradisi semuanya tergantikan olehnya. Akan tetapi Pesantren adalah wadah bagi manusia yang ingin menyelamtkan dirinya dari doktrin meraka yang salah menurut Islam.

Eksistensi pesantren di muka bumi banyak membawa sisi posistif, salah satunya yang paling tampak adalah melindungi santri dari doktrinan budaya barat yang salah. Akan tetapi jangan menolak era milenial, karena dengan era milenial yang mempunyai teknologi yang mumpuni santri bisa menggunakan teknologi tersebut untuk agamanya yaitu berdakwah.

Berdakwah secara real merupakan sesuatu yang sangat susah, karena melihat dari pendengar yang tak semua bisa mendengarkan. Namun dengan adanya teknologi yang dibawa oleh era milenial mampermudah kita sebagai santri sebagai akselerasi dakwah. Diharapkan santri tidak menolak teknologi atau jangan gaptek, karena dengan teknologi banyak yang bisa digunakan oleh santri selain akselerasi dakwah.

Demikianlah yang bisa penulis sampaikan, bisa kita tarik benang merah dari paparan di atas yaitu santri jangan menolak dengan adanya teknologi yang dibawa oleh era milenial, jangan anti terhadap teknologi ataupun gaptek. Karena eksistensi teknologi bagi santri adalah bisa menyebarkan dakwah secara cepat atau akselerasi. Jangan anti terhadap teknologi tapi antilah terhadap budaya barat yang di bawa oleh era milenial, karena budaya barat dengan nilai-nilai Islam sangatlah jauh. Itulah beberapa rangkaian kata yang menjadikan kalimat indah yang menerangkan tentang eksistensi teknologi yang ada kaitannya dengan akselerasi dakwah Islam.

Penulis merupakan siswa MA Unggulan Nuris yang menjalankan PAM (Program Abdi Masyarakat) di Pesantren Darul Hidayah, Gambirono Bangsal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *