Santri dan Sastra: Seorang Pesarung Layaknya Patriot

Oleh: Muhammad Qorib Hamdani

XI PK A

“Berkarya hingga mendunia, mentenarkan diri lewat karangan rangkaian kata. Suatu hal yang indah bagi santri si pesarung dan pesongoko sejati, merubah lautan, menyulap alam, dan menghias semuanya dengan sastra dari santri untuk santri. Mengharap cinta pada sang nabi dan Ilahi, dalam sastra yang semoga berguna pada semua.”

Sastra dan santri adalah dua komponen yang tak bisa terpisahkan karena kata santri jika dikuak akan menjadi kata sastra. KH Dzawawi Imron berkata dengan rendah hati untuk menujukkan hormatnya kepada kiai, “bagaimana sebutir embun seperti saya mampu bicara tentang luas samudra? Bagaimana selembar kertas mampu bicara tentang luas hutan-hutan? Mustahil.” Lalu dia menjelaskan tentang kata santri yang berkara pada kata shastri dari bahasa Sanskerta, yaitu satu akar kata dengan sashtra atau sastra (JawaPos.com).

Renang Dalam Segi Medis, Agamis dan Hukum Perempuan Berenang Menurut Kacamata Islam

sastra adalah sebuah teks yang megandung pedoman kehidupan. Sedangkan shastri menurut KH Dzawawi Imron adalah orang yang belajar rangkaian kata yang bersifat suci dan indah. Di Nusantara, Wali Sanga mendirikan sebuah lembaga yang diberi nama shastri, namun orang jawa mengatakan santri.

Menurut Plato sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.

UU Pesantren, Santri, dan Pendidikan

KH Dzawawi Imron melanjutkan tentang akar kata yaitu, ”Sastri. Lalu menjadi sastria, kesastria, yaitu seseorang yang berperilaku suci dan indah, pejuang, pendekar kebenaran, berperilaku pahlawan.”

Kehidupan santri tidak dapat dilepaskan dari kata sastra dan jiwa patriot yang kesatria. Perkataan tersebut dinaungi oleh ajaran agama yang tidak boleh takut untuk amar ma’ruf nahi munkar layaknya seorang sahabat Rasulullah bernama Umar. Santri juga harus mengikuti hati nuraninya, dimana ia akan melakukan amar ma’ruf dimana ia melakukan nahi munkar. Tidak saling mendustai dan tak saling menghianati, berjalan mengikuti ajaran Rasulullah dan tindakannya.

Penulis merupakan siswa MA Unggulan Nuris yang menjalankan PAM (Program Abdi Masyarakat) di Pesantren Darul Hidayah, Gambirono Bangsal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *