Renang Dalam Segi Medis, Agamis dan Hukum Perempuan Berenang Menurut Kacamata Islam

Renang Dalam Segi Medis, Agamis dan Hukum Perempuan Berenang Menurut Kacamata Islam

Oleh Muhammad Qorib Hamdani

XI PK A

diantara hak anak yang wajib ditunaikan orang tuanya adalah: mengajarkan Al Qur’an, renang dan melempar

Rangkaian kata yang indah menjadikan kata di atas bersemedi dalam paduan rasa (hadits) dari Rasulullah Saw. Kalimat tersebut menjelaskan tentang orang tua yang berkewajiban atas anaknya untuk mengajari Al-Quran, renang, dan melempar. Di sini penulis ingin membahas lebih spesifik lagi yaitu tentang renang menurut kacamata Islam.

Olahraga yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah dan sahabat Abu Bakar adalah berenang, wow, mengapa bisa berenang? Jika kita melihat dari segi realitsis tentang orang Arab yang sangat tidak suka dengan air (kecuali dalam segi kebutuhan seperti minum dan lainnya), dan kolam renang di Arab pun sulit untuk ditemukan, bisa ditemukan namun berbentuk oase (daerah padang pasir yang berair dan cukup untuk tumbuhan dan cukup untuk tumbuhan serta pemukiman manusia. Berawal dari sana kita tak bisa memikirkan dengan logika tentang Rasulullah dan Abu Bakar yang menganjurkan kita sebagai umat Islam untuk mengajarkan pada anak-anak kita untuk belajar berenang.

Setelah agama Islam mengalami kemajuan dalam berdakwah dan banyak dari pejuang-pejuang Islam yang menyebarkan agamanya dari mana saja dan tempat mana saja yang akan disebarkannya sekalipun mengarungi samudra mereka rela. Maka dari peristiwa itu maka kita tidak heran mengapa Rasulullah dan Abu Bakar mengutamakan berenang, apabila kita tenggelam atau ada bencana disekitar kita seperti banjir, maka dari sana kita bisa menyelamatkan diri.

Selain dalam segi agamis, berenang ternyata mempunyai banyak kandungan kesehatan menurut para dokter seperti melatih seluruh tubuh, memperkuat otot kardiovaskular, dan menurunkan tekanan darah.

Lalu bagaimana dengan kaum hawa, mereka bukan hanya diam di rumah dan membantu orang tua di dapur, akan tetapi kaum hawa juga memerlukan aktivitas kebugaran jasmani. Lalu bagaimana jika kaum hawa di sana melakukan aktivitas olahraga seperti berenang? Bolehkah dalam kacamata ulama’?

Hukum bagi kaum hawa disana adalah haram apabila mandi di tempat khalayak umum, namun apabila kaum hawa renang saat sendirian, tidak ada yang mengetahuinya maka hukumnya boleh. Kaum hawa boleh renang di khalayak umum, akan tetapi ada syarat khusus baginya, yaitu:

Pertama, wanita harus menutup auratnya dan tidak berpakaian yang ketat (berpakaian yang sampai terlihat bentuk tubuhnya.

Kedua, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ “Janganlah seorang laki-laki melihat kepada aurat laki-laki lain dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita lain.”

Ketiga, tidak ada campur-baur antara laki-laki dan wanita di tempat tersebut.

Keempat, tempat tersebut aman dari pandangan lelaki. Laki-laki tidak bisa melihat ke dalamnya.

Kelima, mendapatkan izin dari suami apabila sudah menikah dan dari wali apabila belum menikah. Itulah beberapa pemaparan mengenai renang dalam Islam dan segi medis, dan juga membahas tentang hukum perempuan berenang.

Penulis merupakan siswa MA Unggulan Nuris yang menjalankan PAM (Program Abdi Masyarakat) di Pesantren Darul Hidayah, Gambirono Bangsal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *