Eksistensi Sastra Pesantren di Era Milenial

Eksistensi Sastra Pesantren di Era Milenial

Oleh: Muhammad Qorib Hamdani*

XI PK A

Pesantren dalam kata mutiara sastra, berkolaborasi menjadikan rangkaian yang indah bak batu permata. Era menggapai semua hal di dunia, mustahil bagi seseorang mencoba tuk lari darinya. Semua orang bertanya-tanya, siapakah dia, bisakah dia menangkapku? Namun semuanya terbungkam setelah era menguasai kata mutiara berbentuk sastra.

Relasi pesantren dan sastra erat sekali, entahlah, Mengapa bisa dikatakan sangat kental sekali? Kutanyakan pada bunga yang semerbak keharumannya dan membawaku ke dalam jawaban yang bisa kupahami dari pertanyaanku tadi. Yaitu, jika kita melihat ulama’ kontemporer terdahulu, banyak dari mereka yang mengarang kitab dalam bentuk nadzom ataupun sebagainya.

Karya-karya mereka, jika kita berpikir lebih jernih dengan menggunakan akal sehat, maka kalian tidak akan terpikir bahwasannya karangan mereka merupakan sastra, contohnya banyak dari mereka yang mengarang nadzom yang berakhiran kata yang sama. Menurut sebagian orang mengatakan bahwasannya mereka mengarang sebuah puisi, hanya saja ditulis dengan tulisan arab.

Teknologi di era sekarang semakin bertambah, berevolusi dengan sangat cepat the great shifting, tak tahu siapa yang dilaluinya (santri), sehingga mereka benci dengan perubahan ini. Namun santri sekarang tidak boleh ada yang gaptek (gagap teknologi), karena era milenial sudah melewati santri tanpa peduli sedikitpun. Dari itulah santri harus bangkit dan merangkul dunia teknologi sebagai sarana atau wadah untuk berekspresi mewarnai dunia dengan berbagai karangan sastra.

Santri, kata yang selalu diimpikan oleh masyarakat, berharap semoga dia bisa mengatur masyarakat dan Negara (sukses). Dengan kelimuan agamis dan akhlaqul karimah yang tidak diragukan lagi, membuat santri seakan-akan menjadi panutan atau menjadi kepercayaan masyarakat. Seseorang bisa dikatakan sukses apabila dia mengkiuti perkembangan zaman, karena dengan mengikuti perkembangan zaman kita bisa berekspresi melalui media yang telah dibawa oleh zaman milenial.

Maka dari itu santri jangan menolak era milenial, karena dari era milenial santri bisa mentenarkan dirinya melalui sebuah karya sastra, sama halnya dengan ulama’ kontemporer terdahulu, hanya saja ulama dulu menggunakan tinta dan kertas yang kemudian dibukukan, sedangkan santri sekarang sudah memiliki media yang bisa dibaca oleh khalayak umum hanya dengan menggunakan smartphone mempermudah para pembaca.

Bisa kita tarik benang merah dari teks di atas bahwasannya kita sebagai santri jangan menolak era milenial, justru dengan beberapa teknologi itulah bisa kita gunakan sebaik mungkin terutamanya penulisan (sastra), karena melihat zaman sekarang sastra pesantren sudah mulai menurun. Jadi, kita harus kembalikan kejayaan dan kekayaan pesantren di era milenial dengan sejuta kreasi membangkitkan para pemuda yang masih peduli terhadap sastra orisinil pesantren.

Penulis merupakan siswa MA Unggulan Nuris yang menjalankan PAM (Program Abdi Masyarakat) di Pesantren Darul Hidayah, Gambirono Bangsal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *