Ayo Bedakan Jual Beli dan Riba!

Ayo Bedakan Jual Beli dan Riba!

Oleh: Muhammad Qorib Hamdani

Riba menjadi klaim orang-orang terhadap ritel yang real. Mereka mengklaim seperti itu karena ritel sudah menjadi hal yang biasa dalam masalah riba. Untuk sebuah pendemonstrasian terhadap masyrakat perlu tanamkan misi dan visi para ritel (pasar) untuk mewujudkan pedagang nyata tanpoa riba.

Jual beli sudah menjadi kebutuhan sehari-hari kita seperti bahan makanan dan lainnya. Tempat seorang menjual dan membeli yaitu pasar, toko pribadi, mall, dan lain-lain. Penggunaan alat untuk membeli yang sudah disahkan dalam undang-undang adalah uang rupiah.

(Baca juga: Prespektif Ta’lim Tentang Penyebab Lupa)

Keakraban jual beli dan riba sangatlah dekat, para ritel luar ada yang menggunakan riba dan ada yang tidak. Mengapa demikian? Karena para ritel jika menginginkan keuntungan yang banyak dengan menggunakan riba. Akan tetapi Rasulullah tidak mengajarkan untuk menggunakan riba, karena riba adalah perbuatan yang tidak disukai Allah.

Apa itu riba? Bedakah dengan jual beli? Apa yang menjadikan hal itu menjadi beda? Mengapa riba itu haram? pertanyaannya cukup sampai disini saja ya! Lebih lanjutnya baca di bawah ini!

(Baca juga: Kau dan Aku, Boleh Bersama Ya!)

Penulis disini bukan ingin membahas tentang  jual beli dan riba, akan tetapi akan menguak perbedaan dari jual beli dan riba. Pengertian jual beli menurut para ahli adalah menukar harta dengan harta. Sedangkan riba adalah tumbuh membesar. Lebih simpelnya adalah jika jual beli itu halal sedangkan riba haram, kedua kata ini maknanya sangat jauh.

Jangan samakan makana dari kedua kata ini, apabila seorang mengklaim bahwa keduanya itu sama makaorang yang mengklaim itu akan  kekal di neraka, ini menurut Al-Quran dalam yang berbunyi, “Adapun yang kembali (bertransaksi riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” Prof Quraish Shihab, dalam Kitab Tafsir Al-Mishbah.

(Baca juga: Merpati, Kertas Abu-abu dan Seponggak Rasa Cinta)

Beliau menambakan bahwa siapa saja yang menghalalkan riba, maka sama saja dia tidak percaya denga Allah, dan apabila orang itu tidak percaya maka akan kekal di dalamnaya (neraka).

Lalu bagaimana jika mempraktekan riba tanpa menghalalkannya? Menurut beliau hal itu akan mendapatkan  siksa neraka, namun yang bersangkutan tidak keka di dalamnya. Pendapat ini merupakan jawaban dari mayoritas ulama’.

Penulis merupakan siswa MA Unggulan Nuris yang menjalankan PAM (Program Abdi Masyarakat) di Pesantren Darul Hidayah, Gambirono Bangsal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *